Ketika matahari sudah menyingsing, waktu menunjukkan
pukul 12.00 siang, saya segera menyiapkan untuk mengadakan pertemuan peserta
PKH, di wilayah Triharjo tepatnya didusun Kantongan. Seperti biasa dalam
memberikan pengarahan kepada para peserta PKH pun, saya selalu menerapkan
system pertemuan yang menarik dan mengusahakan dikemas sesederhana mungkin,
karena saya menyadari latar belakang pendidikan mereka sangat rendah.
Ada yang menarik dari pertemuan kelompok tersebut, salah
satu dari beberapa anggota kelompok Kantongan tersebut, kondisi ekonominya
miskin , rumah tidak dialiri listrik, dan memiliki dua anak yang salah satunya
putus sekoalah hanya sampai SMP. Mendengar informasi tersebut, saya segera
mengunjungi dampingan saya. Ibu Jumilah, dengan Puji lestari, dan Kirmanto , pekerjaan
sehari hari hanya sebagai buruh pertanian. Dengan upah sangat kecil membuat
kondisi ekonomi keluarga ini dibawah rata-rata.
Senja pun tiba,
saya bergegas untuk menuju rumah bu jumilah,” Assalamualiakum,..bu..bu jumilah..,”
Wss,wr.wb…..,ya
..e..bu maya, mari bu silahkan masuk..”
Anaknya tari tidak
sekolah, kenapa bu?..
Ya..kalo anaknya
sebenarnya ingin sekolah, tapi…..
Tapi..apa bu…?.bu
maya tau sendiri, uang dari mana bu??...
Dari kunjungan
saya diatas, memang menunjukkan ketidakmampuan untuk membiayai keuangan
sekolah.
Berawal dari informasi adanya
Program Pengurangan Pekerja Anak, dari Dinas Nakersos. Tekad dan niat untuk
mendampingi anak putus sekolah dengan latar belakang anak yatim. Saya pun tidak
berpikir panjang lagi untuk segera mendampingi sebut saja Puji Lestari (tari),
anak yang lugu dan polos dengan nila nem 27 dengan jumlah mata pelajaran 4,
rata-rata 6,9 lebih. Tujuan saya untuk mendaftarkan dalam PPA, sudah
terlaksana, selama 1 bulan penuh tari masuk shelter untuk diberi bimbingan dan
motivasi.
Selama itu pula, saya sebagai
pendamping bisa memantau kepribadian dan ketekunan, kesungguhannya untuk
kembali ke sekolah formal. Dengan perjuangan yang sangat luar biasa, kondisi
kehamilan saya yang sangat muda. Dengan penuh kehati-hatian saya melangkah
pasti untuk terus mendampingi tanpa lelah.
Waktu untuk mendaftarkan
sekolah telah tiba, dengan penuh keyakinan saya mendampingi tari untuk
mendaftar di SMK YPKK 2 di Sleman. Koordinasi saya lakukan demi anak tersebut
mendapat erhatian karena berasal dari Keluarga Miskin dan anak Yatim. Gayung
pun bersambut, pihak Pemerintah Kabupaten Sleman program JPPD dengan syarat KK
tersebut mempunyai KKM (Kartu Keluarga Miskin). Pihak keuangan juga sangat
membantu keuangan seperti dispensasi uang pangkal, SPP, Uang gedung. Semua
siswa dianjurkan untuk melunasi semua, namun Tari diringankan untuk membayar
sampai JPPD turun dan bantuan dari Nakersos cair, sebulan berlalu bantuan dari
Bazis Kabupaten Sleman terlaksana, dengan bantuan Rp 2.500.000,- diterima di
Masjid Wahidin S, kompleks Pemda Beran.
Tanpa pikir panjang saya bergegas untuk koordinasi ke
pihak sekolah, untuk segera membayarkan uang tersebut demi memperlancar proses
belajar mengajar. Dengan hati yang tulus saya pun melaksanakan tugas demi anak
yatim ini, saya pun berdoa agar Tari bisa menjadi anak yang berguna bagi
keluarganya dan lingkungannya.
Kelas satu sudah berlalu, komunikasi pun masih saya
lakukan untuk memantau kondisi prestasi akademiknya, dan semangat belajarnya.
Kekawatiran untuk tidak bisa membayar sekolah selalu terbesit dipikirannya,
setiap menjelang Ujian Semester, pihak keuangan selalu mengingatkan pada semua
siswanya agar segera membayar SPP agar bisa mengikuti ujian, begitu juga dengan
Tari yang tidak bisa berbuat banyak, kecuali menunggu uluran bantuan dari PKH
karena adiknya Kirmanto yang masih duduk di bangku SMP kelas 8 masih
mendapatkan bantuan. Bantuan JPPD sebesar Rp 1.800.000,- sudah diperolehnya di
sekolah, rasa tenang dan ayem dia rasakan. Hanya dengan semangat belajar yang
kuat dan tekad, begitulah nasehat yang selalu saya sampaikan padanya.
Dipenghujung Tahun 2010 tepatnya bulan Desember, Dinas
Sosial memberi informasi pendataan penerima bantuan kesejahteraan anak senilai
Rp. 1.000.000,- tanpa berpikir panjang Kirmanto saya ajukan untuk mendapat
bantuan, agar segala kebutuhan untuk sekolah bisa terpenuhi. Rasa syukur kepada
Allah SWT saya panjatkan, ada saja jalan untuk mempermudah kesulitan keuangan
bagi keluarga Bu Jumilah ini.
Pada awalnya saya hanya memiliki niat mendampingi untuk
diikutkan dalam PPa-PKH, namun Allah SWT menginginkan saya mengemban amanah
untuk mempermudah jalan mereka agar diangkat derajadnya dalam memperdalam ilmu
melalui sekolah, meskipun terbesit dibenak saya, rasa gundah dan ketidakpastian
sumber dana untuk membiayai dan meringankan beban mereka.
Bulan puasa pun tiba, dengan rasa persaudaraan yang kuat
saya masih teringat mereka berdua dengan kondisi rumah tanpa listrik dengan gaya hidup pas-pasan. Saya
pun berniat memberi ssedikit bingkisan menjelang Hari Raya Idul Fitri, saya
yakin betapa bahagianya mereka meskipun tanda mata dari saya hanya Mukena dan
Baju koko. Namun ketika saya menyampaikan bingkisan itu, rasa haru dan
berlinang air mata saya ketika menyampaikan bingkisan itu.
Subhanallah, kita semua perlu
mensyukuri nikmat kita menjadi Pendamping PKH, tanpa kita sadari bahwasannya
kita diberi amanah yang luar biasa untuk mendampingi mereka yang berada di
bawah garis kemiskinan.
ULLY UMAYAH KALIKHY
PENDAMPING PKH SLEMAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar