Selasa, 16 Oktober 2012

“Anak Yatim RTSMku….Membawa Berkah....”


Ketika matahari sudah menyingsing, waktu menunjukkan pukul 12.00 siang, saya segera menyiapkan untuk mengadakan pertemuan peserta PKH, di wilayah Triharjo tepatnya didusun Kantongan. Seperti biasa dalam memberikan pengarahan kepada para peserta PKH pun, saya selalu menerapkan system pertemuan yang menarik dan mengusahakan dikemas sesederhana mungkin, karena saya menyadari latar belakang pendidikan mereka sangat rendah.
Ada yang menarik dari pertemuan kelompok tersebut, salah satu dari beberapa anggota kelompok Kantongan tersebut, kondisi ekonominya miskin , rumah tidak dialiri listrik, dan memiliki dua anak yang salah satunya putus sekoalah hanya sampai SMP. Mendengar informasi tersebut, saya segera mengunjungi dampingan saya. Ibu Jumilah, dengan Puji lestari, dan Kirmanto , pekerjaan sehari hari hanya sebagai buruh pertanian. Dengan upah sangat kecil membuat kondisi ekonomi keluarga ini dibawah rata-rata.
Senja pun tiba, saya bergegas untuk menuju rumah bu jumilah,” Assalamualiakum,..bu..bu jumilah..,”
Wss,wr.wb…..,ya ..e..bu maya, mari bu silahkan masuk..”
Anaknya tari tidak sekolah, kenapa bu?..
Ya..kalo anaknya sebenarnya ingin sekolah, tapi…..
Tapi..apa bu…?.bu maya tau sendiri, uang dari mana bu??...
Dari kunjungan saya diatas, memang menunjukkan ketidakmampuan untuk membiayai keuangan sekolah.
Berawal dari informasi adanya Program Pengurangan Pekerja Anak, dari Dinas Nakersos. Tekad dan niat untuk mendampingi anak putus sekolah dengan latar belakang anak yatim. Saya pun tidak berpikir panjang lagi untuk segera mendampingi sebut saja Puji Lestari (tari), anak yang lugu dan polos dengan nila nem 27 dengan jumlah mata pelajaran 4, rata-rata 6,9 lebih. Tujuan saya untuk mendaftarkan dalam PPA, sudah terlaksana, selama 1 bulan penuh tari masuk shelter untuk diberi bimbingan dan motivasi.


Selama itu pula, saya sebagai pendamping bisa memantau kepribadian dan ketekunan, kesungguhannya untuk kembali ke sekolah formal. Dengan perjuangan yang sangat luar biasa, kondisi kehamilan saya yang sangat muda. Dengan penuh kehati-hatian saya melangkah pasti untuk terus mendampingi tanpa lelah.
Waktu untuk mendaftarkan sekolah telah tiba, dengan penuh keyakinan saya mendampingi tari untuk mendaftar di SMK YPKK 2 di Sleman. Koordinasi saya lakukan demi anak tersebut mendapat erhatian karena berasal dari Keluarga Miskin dan anak Yatim. Gayung pun bersambut, pihak Pemerintah Kabupaten Sleman program JPPD dengan syarat KK tersebut mempunyai KKM (Kartu Keluarga Miskin). Pihak keuangan juga sangat membantu keuangan seperti dispensasi uang pangkal, SPP, Uang gedung. Semua siswa dianjurkan untuk melunasi semua, namun Tari diringankan untuk membayar sampai JPPD turun dan bantuan dari Nakersos cair, sebulan berlalu bantuan dari Bazis Kabupaten Sleman terlaksana, dengan bantuan Rp 2.500.000,- diterima di Masjid Wahidin S, kompleks Pemda Beran.
Tanpa pikir panjang saya bergegas untuk koordinasi ke pihak sekolah, untuk segera membayarkan uang tersebut demi memperlancar proses belajar mengajar. Dengan hati yang tulus saya pun melaksanakan tugas demi anak yatim ini, saya pun berdoa agar Tari bisa menjadi anak yang berguna bagi keluarganya dan lingkungannya.
Kelas satu sudah berlalu, komunikasi pun masih saya lakukan untuk memantau kondisi prestasi akademiknya, dan semangat belajarnya. Kekawatiran untuk tidak bisa membayar sekolah selalu terbesit dipikirannya, setiap menjelang Ujian Semester, pihak keuangan selalu mengingatkan pada semua siswanya agar segera membayar SPP agar bisa mengikuti ujian, begitu juga dengan Tari yang tidak bisa berbuat banyak, kecuali menunggu uluran bantuan dari PKH karena adiknya Kirmanto yang masih duduk di bangku SMP kelas 8 masih mendapatkan bantuan. Bantuan JPPD sebesar Rp 1.800.000,- sudah diperolehnya di sekolah, rasa tenang dan ayem dia rasakan. Hanya dengan semangat belajar yang kuat dan tekad, begitulah nasehat yang selalu saya sampaikan padanya.
Dipenghujung Tahun 2010 tepatnya bulan Desember, Dinas Sosial memberi informasi pendataan penerima bantuan kesejahteraan anak senilai Rp. 1.000.000,- tanpa berpikir panjang Kirmanto saya ajukan untuk mendapat bantuan, agar segala kebutuhan untuk sekolah bisa terpenuhi. Rasa syukur kepada Allah SWT saya panjatkan, ada saja jalan untuk mempermudah kesulitan keuangan bagi keluarga Bu Jumilah ini.
Pada awalnya saya hanya memiliki niat mendampingi untuk diikutkan dalam PPa-PKH, namun Allah SWT menginginkan saya mengemban amanah untuk mempermudah jalan mereka agar diangkat derajadnya dalam memperdalam ilmu melalui sekolah, meskipun terbesit dibenak saya, rasa gundah dan ketidakpastian sumber dana untuk membiayai dan meringankan beban mereka.
Bulan puasa pun tiba, dengan rasa persaudaraan yang kuat saya masih teringat mereka berdua dengan kondisi rumah tanpa listrik dengan gaya hidup pas-pasan. Saya pun berniat memberi ssedikit bingkisan menjelang Hari Raya Idul Fitri, saya yakin betapa bahagianya mereka meskipun tanda mata dari saya hanya Mukena dan Baju koko. Namun ketika saya menyampaikan bingkisan itu, rasa haru dan berlinang air mata saya ketika menyampaikan bingkisan itu.
Subhanallah, kita semua perlu mensyukuri nikmat kita menjadi Pendamping PKH, tanpa kita sadari bahwasannya kita diberi amanah yang luar biasa untuk mendampingi mereka yang berada di bawah garis kemiskinan.



ULLY UMAYAH KALIKHY
PENDAMPING PKH SLEMAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar